Sabtu, 25 Februari 2012

Faktor yang mempengaruhi penyebaran penyakit

PENDAHULUAN

Penyakit dapat didefinisikan sebagai perubahan pada individu-individu yang menyebabkan parameter kesehatan merka berada pada di bawah kisaran normal. Penyakit menular adalah penyakit yang secara alamiah dapat berpindah dari seseorang kepada orang lain.
Berbagai jenis penyakit (menular dan tidak menular) sudah berkembang di lingkungan kita. Ada penyakit yang berkembang secara endemis di suatu wilayah karena penyakit ini sudah sejak lama berkembang di lingkungan tersebut. Ada juga jenis penyakit yang baru berkembang (new emerging diseases)di lingkungan kita seperti HIV/AIDS, SARS, Flu Burung. Penyakit ini menjadi ancaman baru bagi kesehatan masyarakat kita karena faktor hazard (lingkungan dan perilaku masyarakat) sebagai dampak globalisasi.
Mobilitas manusia yang semakin meningkat akibat kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi akan berdampak pada penyebaran agent penyakit ke berbagai bagian dunia. Ada juga penyakit yang muncul kembali ke permukaan (reemerging disease) karena mutasi agent (seperti virus) atau penurunan daya tahan tubuh manusia. Semua jenis penyakit yang berkembang di masyarakat kita akan terkait dengan berbagai faktor (lingkungan, perilaku manusia, keturunan, dan pelayanan kesehatan yang tersedia).
Perkembangan penyakit di Indonesia saat ini sudah menjadi tekanan ganda (double burden) bagi masyarakat kita. Penyakit menular yang berkembang endemik di masyarakat kita belum mampu kita tekan, tetapi secara bersamaan korban penyakit tidak menular (jantung koroner, Stroke, kanker, DM type II, dsb) sudah semakin meningkat di myasarakat.
Ada empat faktor utama yang terkait dengan perkembangan berbagai jenis penyakit di masyarakat (lingkungan, perilaku manusia, keturunan, dan pelayanan kesehatan yang tersedia). Kondisi ini memengaruhi status kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut sangat bervariasi jenis dan cara kerjanya. Secara hirrarkis, keempat faktor tersebut terkait dengan perubahan global, kebijakan strategis pemerintah terkait dengan pembangunan, sistem nilai yang berkembang di dalam keluarga/masyarakat akibat tekanan ekonomi, sampai perubahan lingkungan fisik yang mempengaruhi gaya hidup manusia. Ada juga faktor khas yang terkait dengan perilaku manusia (life style – gaya hidup) yang memudahkan manusia terpapar (berisiko) dengan agent penyabab penyakit atau terjadinya perubahan pada tubuh manusia akibat gaya hidupnya (malaria dan jantung koroner).
PEMBAHASAN

Penyebaran penyakit dalam epidemiologi sering dibedakan atas tiga macam yakni penyebaran menurut ciri-ciri manusia, tempat dan waktu. Penyebaran menurut ciri-ciri manusia yang lazim dipergunakan adalah menurut umur, jenis kelamin, suku bangsa, ras, kerentanan tubuh terhadap penyakit, pendidikan, pekerjaan dan status sosial lainnya.
Penyebaran menurut tempat dibedakan atas penyebaran lokal, nasional, regional dan internasional. Sedangkan penyebaran menurut waktu adalah yang menggambarkan perubahan siklik suatu penyakit, apakah bersifat menetap sepanjang waktu, berubah menurut perubahan waktu dan ataupun musim.
Perpaduan antara jumlah dan penyebaran penyakit ini dapat menggambarkan keadaan suatu penyakit, apakah bersifat endemi, epidemi, pandemi ataupun sporadik. Ambil contoh untuk pandemi misalnya,di sini penyakit menyerang banyak orang (jumlah dan ciri manusia), dalam suatu wilayah yang luas (tempat) serta dalam saat yang singkat (waktu).
Ada tiga faktor yang berperan pada setiap kejadian (penyebaran) penyakit, yaitu:
1. Manusia sebagai tuan rumah (host)
2. Penyebab/hama penyakit (agent)
3. Lingkungan yang mempengaruhi (environment)
Manusia sebagai tuan rumah (host) dapat menjadi faktor penyebaran penyakit yang didasarkan pada umur, jenis kelamin, suku bangsa, ras, kerentanan tubuh terhadap penyakit, pendidikan, pekerjaan dan status sosial lainnya. Kodisi fisik host yang menurun dapat menyebabkan dia terserang penyakit.
Penyebab/hama penyakit (agent) dapat menjadi faktor penyebab penebaran penyakit. Jika jumlah agent dalam lingkungan besar maka besar pula kemungkinan seseorang terkena penyakit. Begitupun sebaliknya, agen yang berada dalam lingkungan walaupun dalam jumlah kecil dapat menyerang manusia apabila manusia dalam keadaan lemah.
Kondisi lingkungan (environment) dapat pula menjadi faktor penyebab penularan penyakit. Kondisi lingkungan yang selau berubah dapat menurunkan kondisi fisik manusia sehingga dia rentan terhadap penyakit atau kondisi lingkungan yang berubah sehingga agent dapat berkembang biak dengan pesat pada lingkungan tersebut yang menyebabkan timbulnya penyakit.
Perubahan suhu sangat besar pengaruhnya pada vektor serangga dalam penyebaran penyakit. Faktor iklim sendiri merupakan salah satu faktor yang penting bagi berbagai jenis penyakit yang ditularkan melalui vektor (hewan yang membawa mikroorganisme patogen), penyakit saluran cerna, dan penyakit yang berhubungan dengan penularan melalui air. Salah satu vektor tersebut adalah nyamuk yang menularkan malaria dan penyakit virus seperti dengue dan demam kuning. Nyamuk membutuhkan genangan air untuk berkembang biak dan nyamuk dewasa membutuhkan kondisi yang lembab agar dapat hidup. Suhu yang lebih hangat meningkatkan perkembangbiakan nyamuk dan mempersingkat waktu pematangan dalam badan vektor tersebut sehingga vektor lebih cepat menjadi infeksius. Selain itu, suhu mempengaruhi perilaku nyamuk yang memungkinkan terjadinya penularan. Suhu yang lebih hangat cenderung meningkatkan perilaku menggigit nyamuk dan menghasilkan nyamuk dewasa yang lebih kecil sehingga membutuhkan darah yang lebih banyak agar dapat bereproduksi.
Salah satu penyakit menular yang disebarkan oleh nyamuk yang paling sensitif terhadap perubahan iklim jangka panjang adalah malaria. Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Suhu yang sangat tinggi memiliki efek mematikan bagi nyamuk dan parasit malaria. Namun pada suhu rendah, peningkatan suhu sedikit saja dapat meningkatkan resiko transmisi malaria. Selain malaria, penyakit yang juga disebarkan oleh nyamuk adalah dengue. Dengue umumnya terjadi pada cuaca yang lebih hangat dan lembab. Perubahan iklim berkaitan dengan pola hujan. Pola hujan dapat mempengaruhi penyebaran berbagai mikroorganisme yang dapat menyebarkan penyakit. Hujan dapat mencemari air dengan cara memindahkan kotoran manusia dan hewan ke air tanah. Organisme yang ditemukan antara lain kriptosporodium, giardia, dan E.coli yang dapat menyebabkan penyakit seperti diare. Penularan penyakit saluran cerna seperti diare bukan hanya melalui kontaminasi air, tetapi juga dapat meningkat akibat suhu tinggi, melalui efek langsung pada pertumbuhan organisme di lingkungan.
Hujan yang terus menerus dapat menimbulkan banjir. Adanya banjir dapat memberikan tempat yang sesuai untuk nyamuk berkembang biak sehingga jumlahnya bertambah. Banjir juga menimbulkan penyakit menular seperti leptospirosis akibat adanya kontaminasi air dengan kotoran tikus. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh tercemarnya air dengan mikroorganisme patogen umumnya terjadi di negara-negara miskin, dimana pasokan air dan sanitasi tidak adekuat. Wabah seperti kolera, tifoid, dan diare timbul setelah banjir, sedangkan kekeringan menyebabkan kurangnya air yang tersedia untuk mencuci dan sanitasi serta meningkatkan resiko terjadinya penyakit menular. Kekeringan juga menyebabkan panen terancam gagal dan produksi panen menurun, Akibatnya masyarakat terancam kekurangan pangan dan kelaparan yang mengarah pada terjadinya penyakit dan malnutrisi yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan individu terhadap penyakit.
Suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan pembentukan polutan udara selain karbondioksida. Gas yang berasal dari pembakaran bahan bakar seperti minyak dan batu bara menambah polusi udara. Paparan polutan tersebut dapat memperberat penyakit kardiovaskular dan pernapasan sehingga dapat menyebabkan kematian dini.
Rantai penularan penyakit adalah rangkaian sejumlah faktor yang memungkinkan proses penularan suatu penyakit dapat berlangsung. Faktor yang merupakan mata rantai itu ada 6, yaitu:
1. Adanya sumber penularan
2. Adanya hama penyakit
3. Adanya pintu keluar
4. Adanya cara penularan
5. Adanya pintu masuk
6. Adanya kerentanan
1. SUMBER PENULARAN
Sumber penularan atau sumber infeksi adalah tempat dimana hama penyakit hidup dan berkembang biak secara alamiah. Dari sumber infeksi inilah kemudian penyakit itu menular kepada orang lain.
Sumber penularan penyakit dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:
a. Manusia (Human Reservoir)
Human reservoir dapat berupa:
- orang sakit dengan gejala-gejala yang jelas (kasus klinis)
- orang sakit dengan gejala-gejala yang tidak jelas (kasus sub klinis)
- Karier, yaitu orang yang tidak sakit tetapi tubuhnya mengandung dan mengeluarkan hama penyakit.
Sumber penularan itu mengandung hama penyakit pada berbagai bagian tubuhnya, misalnya dalam darah, paru-paru, hati, dan sebagainya. Juga dalam berbagai produk yang dikeluarkannya, misalnya ingus, ludah, dahak (sputum), urine, faeces, nanah, cairan luka, dan lain-lain, yang sewaktu-waktu dengan cara tertentu dapat menular kepada orang lain.
b. Hewan (Animal Reservoir)
Beberapa jenis hewan dapat menjadi sumber penularan beberapa macam penyakit, seperti misalnya lembu dan biri-biri (penyakit anthrax), anjing (penyakit rabies), tikus (penyakit pes), dan babi (cacing pita).
c. Lain-lain sumber penularan
Sumber penularan lain misalnya tanah dan udara. Di tanah terdapat berbagai bibit penyakit seperti misalnya spora dari basil tetanus (Clostridium tetani), telur dari cacing-cacing (cacing ankylostoma, ascaris, dan lain-lain), yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Di udara bebas beterbangan bermacam-macam mikro organisme yang juga dapat menimbulkan penyakit-penyakit seperti streptococcus, staphylococcus, dan lain-lain.
2. HAMA PENYAKIT
Yang dimaksud dengan hama penyakit adalah mikro organisme yang merupakan penyebab penyakit pada tuan rumah. Hama penyakit dapat dibedakan atas 4 golongan sebagai berikut, yaitu:
a. Golongan hewan
- Protozoa, contohnya Amoeba dysentri, Trypanosoma gambiense, Plasmodium malariae.
- Cacing-cacing, misalnya Filaria bancrofti, Ancylostoma duodenale, Taenia solium.
- Serangga, contohnya Saarcoptes scabii penyebab penyaki scabies.
b. Golongan tumbuh-tumbuhan
- Bakteri, misalnya bermacam-macam coccus, basil, dan spirillium.
- Jamur, contohnya Ptyriasis versicolor penyebab penyakit panu.
c. Golongan virus, misalnya virus DHF, AIDS, dan campak.
d. Golongan Rickettsia, misalnya Rickettsia rickettsi penyebab penyakit thypus bercak wabahi.
Hama penyakit ini hidup dalam tubuh tuan rumahnya sebagai parasit, mereka menimbulkan kerusakan pada sel-sel jaringan tubuh yang ditempatinya, baik secara langsung maupun melalui toksin (racun) yang dihasilkannya.
Di samping yang bersifat patogen sejati (obligat parasit), terdapat juga hama penyakit yang bersifat patogen fakultatif (fakultatif parasit oprtunis) seperti misalnya Clostridium tetani dan Staphylococcus aureus. Clostridium tetani yang sporanya banyak terdapat di tanah, debu, dan benda-benda yang kotor hanya akan menimbulkan penyakit tetanus apabila secara kebetulan masuk ke dalam luka pada kulit. Staphylococcus aureus yang banyak terdapat di udara bebas, baru akan menimbulkan penyakit (radang) apabila secara kebetulan sampai pada luka kulit.
3. PINTU KELUAR
Pintu keluar adalah jalan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu keluar/dikeluarkan dari tubuh tuan rumah. Beberapa jenis penyakit infeksi memiliki pinru keluar yang berbeda-beda.
Pintu keluar dapat berupa:
a. Alat pernafasan
Yaitu hidung dan mulut, pada waktu penderita bernafas, berbicara, batuk, bersin, mengesang, dan atau mendahak. Ini terjadi misalnya pada penyakit TBC paru, influenza, dan difteria.
b. Alat pencernaan makanan
Dalam hal ini adalah mulut dan anus pada waktu penderita muntah dan atau berak, misalnya pada peyakit kolera. Pada peyakit dysentri dan thypus perut yang tidak memiliki gejala khas muntah, hama penyakit dikeluarkan hanya melalui anus bersama faeces. Pada penyakit kolera hama penyakit dikeluarkan juga melalui urine penderita.
c. Alat kencing dan kelamin
Ini terjadi pada beberapa jenis penyakit kelamin, misalnya gonorhoea, syphilis, AIDS, dan lain-lain.
d. Luka pada kulit
Luka pada kulit dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu:
- Luka akibat terjadinya infeksi dan radang pada kulit (misalnya luka pada penyakit syphylis).
- Luka akibat gigitan binatang (misalnya gigitan nyamuk, kutu, atau pinjal).
- Luka yang dibuat dengan sengaja (misalnya luka bekas suntikan).
Pada luka (ulkus) akibat penyakit syphilis atau pennyakit frafmboesia hama penyakit dikeluarkan bersama cairan luka (exudat). Melalui gigitan nyamuk, kutu, dan pinjal dapat terisap keluar hama peyakit yang ada dalam darah penderita, misalnya pada penyakit malaria, typhus bercak pes. Melalui jarum suntik hama beberapa jenis penyakit dapat juga terbawa keluar, seperti misalnya pada penyakit hepatitis infectiosa dan AIDS.
4. CARA PENULARAN
Yang dimaksud dengan cara penularan penyakit adalah proses-proses yang dialami oleh hama penyakit tersebut sehingga dapat masuk ke dalam tubuh calon penderita. Masing-masing penyakit menular mempunyai cara penularan yang khas, yang satu berbeda dengan yang lain.
Cara-cara penularan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Melalui Hubungan Orang dengan Orang (Personal Contact)
Personal contact dapat dibedakan atas 5 cara, yaitu:
- Kontak fisik, contohnya penularan penyakit syphilis melalui hubungan seksual.
- Melalui tangan yang terkontaminasi, ini dapat terjadi misalnya pada penyakit kolera, seseorang yang tangannya terkontaminasi dengan produk si penderita, kemudian makan tanpa terlebih dahulu membersihkan tangannya.
- Melalui bebda-benda yang terkontaminasi. Benda-benda bekas dipergunakan oleh pederita dapat menjadi sarana penularan, seperti misalnya saputangan, handuk, piring, sendok, gelas, dan sebagainya, karena benda-benda tersebut telah terkontaminasi dengan produk dari penderita yang sudah barang tentu penuh dengan hama penyakit.
- Melalui titik udah (Droplet Infection). Ini dapat terjadi misalnya pada penyakit TBC paru dan nfluenza. Pada saat penderita bersin, batuk, atau berbicara, secara tidak disadari akan disemprotkan butir-butir yang amat halus dari ludah dan ingusnya ke udara. Penularan akan terjadi apabila butir-butir ludah atau ingus yang mengandung hama penyakit itu terisap oleh orang lain pada saat bernafas.
- Melalui udara (Air Borne Infection). Butir-butir ludah dan ingus seperti tersebut di atas mempunyai ukuran/diameter bermacam-macam. Butir-butir yang sangat halus akan terus melayang-layang di udara, sedangkan butir-butir yang cukup besar akan turun dan mengendap di tanah. Butir-butir yang melayang di udara apabila mengering akan meninggalkan inti yang berisi hama penyakit, yang disebut droplet nuclei, sedangkan butir-butir yang jatuh di tanah apabila mengering akan membentuk debu yang penuh dengan hama penyakit juga. Dengan perantara udara/angin baik itu droplet nuclei maupun debu yang terkontaminasi itu akan dapat tersebar sampai jauh, dan akan dapat menimbulkan penularan pada orang banyak melalui pernafasan.
b. Melalui Air (Water Borne Infection)
Air dapat menjadi sarana penularan beberapa macam penyakit, misalnya kolera, typhus, parathyphus, dysentri, radang hati menular, lumpuh kanak-kanak dan penyakit karena cacing. Penularan umumnya terjadi akibat orang mengkonsumsi air yang telah tercemar oleh faeces manusia, tana direbus atau diproses terlebih dahullu (faecal-oral infection).
c. Melalui Makanan (Food Borne Infection)
Penyakit-penyakit seperti yang telah disebutkan di atas juga dapat menular dengan perantara makanan. Penularan dapat terjadi karena:
- Makanan telah tercemar dengan hama penyakit akibat diproses oleh orang yang sedang menderita saki ataupun carrier penyakit tersebut.
- Makanan tercemar oleh hama penyakit tersebut dengan perantaraan lalat.
- Bahan makanan yang dimakan mentah tidak dicuci terlebih dahulu dengan sempurna sebelum dikonsumsi, padahal sebelumnya telah disiram air sungai/kali dan sebagainya.
d. Melalui Serangga (Insect Borne Infection=Arthropod Borne Infection)
Beberapa jenis serangga dapat menjadi vektor beberapa macam penyakit.
e. Melalui Alat-Alat Kedokteran Yang Tidak Steril
Beberapa jenis alat kedokteran misalnya jarum suntik, jarum tranfusi, jarum vaksinasi, dan sebagainya dapat juga menjadi perantara penularan beberapa jenis penyakit.
5. PINTU MASUK
Yang dimaksud dengan pintu masuk adalah bagian-bagian badan yang dilalui oleh hama penyakit sewaktu masuk ke dalam tubuh calon penderita. Pintu masuk itu disebut juga pintu infeksi. Pintu masuk itu umumnya sama dengan pintu keluar, yaitu:
a. Alat pernafasan, yaitu idung dan mulut, misalnya pada penyakit TBC paru, influenza dan difteria.
b. Alat Pencernaan Makanan, yaitu mulut misalnya pada penyakit kolera, dysentri, dan thypus perut.
c.Alat kencing dan kelamin, misalnya pada penularan penyakit gonorhoea, syphilis, dan AIDS.
d. Luka pada kulit, dapat berupa luka pada gigitan hewan/serangga, misalnya pada penularan penyakit malaria, DHF, dan pes. Atau luka buatan misalnya bekas suntikan, pada pennularan penyakit Hepatitis infectiosa dan AIDS.
6. KERENTANAN
Kerentanan adalah kesediaan dari tubuh calon tuan rumah untuk mejadi sakit. Tanpa adanya kerentanan maka calon tuan rumah tersebut akan tetap sehat meskipun mendapat penularan hama penyakit.
Dalam kenyataan hidup sehari-hari meskipun kita dikelilingi dan diserang oleh hama peyakit yang tidak terhitng jumlahnya , kita tidak selalu jatuh sakit. 

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penyakit dapat didefinisikan sebagai perubahan pada individu-individu yang menyebabkan parameter kesehatan merka berada pada di bawah kisaran normal. Penyakit menular adalah penyakit yang secara alamiah dapat berpindah dari seseorang kepada orang lain.
Ada empat faktor utama yang terkait dengan perkembangan berbagai jenis penyakit di masyarakat (lingkungan, perilaku manusia, keturunan, dan pelayanan kesehatan yang tersedia). Kondisi ini memengaruhi status kesehatan masyarakat.
Penyebaran penyakit dalam epidemiologi sering dibedakan atas tiga macam yakni penyebaran menurut ciri-ciri manusia, tempat dan waktu.
Ada tiga faktor yang berperan pada setiap kejadian (penyebaran) penyakit, yaitu:
1. Manusia sebagai tuan rumah (host)
2. Penyebab/hama penyakit (agent)
3. Lingkungan yang mempengaruhi (environment)
Faktor yang merupakan mata rantai itu ada 6, yaitu:
1. Adanya sumber penularan
2. Adanya hama penyakit
3. Adanya pintu keluar
4. Adanya cara penularan
5. Adanya pintu masuk
6. Adanya kerentanan
B. SARAN
Adapun saran kami untuk mencegah penyebaran penyakit khususnya penyakit infeksi maka yang perlu dilakukan adalah:
  1. Sering mencuci tangan sebelum dan sesudah mempersiapkan makanan, sebelum dan setelah ke toilet.
  2. Vaksinasi, imunisasi dapat mengurangi risiko terhadappenyakitPastikan anak Anda mengikuti jadwal vaksinasi dengan baik.
  3. Bijaksana mengunakan antibiotik. Minum antibitoik sesuai resep dokter dan patuhi aturannya. Lakukan seks dengan aman. Gunakan kondom jika Anda atau pasangan memiliki risiko penyakit menular seksual atau kebiasaan berisiko tinggi.
    Bepergian secara bijak. Jangan naik pesawat jika Anda sakit. Dengan banyak orang dalam ruangan kecil, anda dapat menginfeksi penumpang lainnya di pesawat dan perjalanan tidak nyaman.
  4. Jangan berbagi barang pribadi, seperti sikat gigi, sisir, dan alat cukur sendiri.
    Jagalah kesehatan hewan peliharaan. Bawalah hewan peliharaaan ke dokter hewan untuk perawatan rutin.
    Jagalah areal hidup hewan Anda dengan bersih..
  5. Perhatikan agar selalu membersihkan zona panas di rumah Anda seperti dapur dan kamar mandi. Dua ruangan ini dapat memiliki konsentrasi bakteri yang tinggi.

1 komentar:

  1. sedikit masukan, buat kedepan alangkah lebih baik dicantumkan daptar pustakanya...
    biar kevalitannya lebih jelas....
    tetep semangat ya nulisnya....
    salam dari padang....

    BalasHapus